Minggu, 13 November 2011

TIKUS vs PERANGKAP



Alkisah seekor tikus  yang mengintip dan mengamati sepasang suami istri petani membuka sebuah bungkusan, "ada makanan" pikirnya. Namun alangkah terkejutnya sang tikus, ternyata bungkusan itu berisi seperangkat alat "perangkap tikus". Sang tikus lalu berlarian ke ladang pertanian itu sambil menjerit kecemasan memberi peringatan "Awwwaaaaasss...!! ada perangkap tikus di dangau" teriaknya berulang-ulang.


Melihat kejadian itu ayam dengan tenang berkokok dan tetap mengais-ngais tanah mencari makan, kemudian mengangkat kepala dan berkata "Yaa maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagimu, tapi bagiku secara pribadi tidak ada masalahnya, jadi tolong jangan buat aku pusinglah..!!"


Mendengar jawaban ayam yang mengecewakan itu, tikus berbalik dan menuju kambing dan mengatakan "Ada perangkap tikus dalam dangau" ucapnya terengah-engah. Kambing pun menyahut "Waaaah...aku menyesal mendengar kabar buruk ini, tetapi tak satupun yang bisa ku lakukan kecuali hanya berdo'a, yakinlah...kamu senantiasa dalam do'a-do'aku" ujar kambing menghibur dengan penuh simpati.

Mendapat tanggapan yang setengah mengejek itu, tikus kemudian berbelok memberi kabar kepada sapi "Oh yaaa...sebuah perangkap tikus?? Jadi saya dalam bahaya besar yaa??" kata sapi dengan nada penuh cemo'oh sambil tertawa. Mendengar jawaban yang memang menyakitkan itu, tikus pun kembali ke sarangnya dengan kepala tertunduk dan dalam keadaan hati yang resah, kesal dan sedih. Karena terbayang bahaya menghadapi perangkap itu sendirian.

Pada malam harinya terdengarlah suara "gedebak-gedebuk" dari dalam dangau, seperti bunyi perangkap tikus yang telah berhasil meringkus mangsanya. Mendengar suara heboh itu istri petani terbangun dan bangkit dari tidurnya, kemudian dalam kegelapan dia meraba-raba mencari perangkap tikus yang dipasang tadi sore. Namun mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ternyata yang terperangkap adalah seekor ular berbisa, ular itu pun sempat mematuk tangan istri sang petani. Dalam kecemasan sang petani bergegas membawa istrinya ke Rumah Sakit dan setelah memperoleh obat mereka dibolehkan pulang, walaupun istrinya masih dalam keadaan demam panas akibat keracunan bisa ular.

Sudah menjadi kebiasaan kita, apabila ada anggota keluarga yang sakit, pihak keluarga akan berusaha memberikan yang terbaik buat si sakit, baik dengan pelayanan maupun dengan memberikan makanan yang lezat-lezat, agar selera makan si penderita tidak menurun.
Hari itu sang petani menyembelih seekor ayam ternaknya, dengan harapan istrinya tetap dalam stamina yang tidak terlalu lemah. Namun keadaan berkata lain, hari itu penyakit istrinya kian parah, sehingga para teman dan tetangga datang menjenguk. Dari jam ke jam tamu datang silih berganti. Untuk memuliakan para tamu, petani itupun menyembelih seekor kambing yang juga merupakan hewan ternaknya untuk menjamu para tamu dan handai taulan.

Hari berikutnya, istri sang petani tak juga kunjung sembuh, sampai akhirnya ajalpun menjemput, istri petani itu meninggal dunia. Mendengar kejadian itu, tentulah semakin banyak saja orang yang datang melayat dan membantu proses pemakaman mayat, sehingga untuk menjamu pelayat dan tamu hari itu sang petani lagi-lagi menyembelih hewan ternaknya, kali ini giliran sapi. Dengan demikian, musnahlah sudah semua yang mengancam dan mengejek sang tikus...tikus akhirnya selamat...!!

PELAJARAN DARI ANEKDOT INI :
  1. Perangkap yang kita buat untuk yang lain, sewaktu-waktu bisa membahayakan kita sendiri.
  2. Apabila kita mendengar seseorang yang sedang menghadapi masalah, hendaknya kita tidak berpikir masalah itu tidak ada kaitannya dengan kita.
  3. Sikap apatis dan mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari pada kebaikannya.
  4. Janganlah memandang siapa yang berbicara, tetapi pandanglah apa isi pembicaraannya, sekalipun yang berbicara itu orang kecil, kalau pembicaraannya mengandung kebenaran, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempedulikannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar